Jurnalisme Eksploitatif

Saya lebih suka mengikuti berita tentang gempa bumi yang terjadi di Sumatra Barat, dan bencana-bencana lain yang pernah terjadi, melalui radio daripada televisi. Meskipun dari pemberitaan TV kita mendapatkan gambaran yang lebih kongkrit tentang dampak bencana yang terjadi, namun seringkali tayangan sangat vulgar, menjijikkan, eksploitatif dan terkesan tidak manusiawi.

bolehkomentar.com Dalam pemberitaan peristiwa bencana gempa bumi di Sumatra Barat kemarin, tak jarang kita disuguhi tayangan yang bernilai eksploitatif. misalnya memperlihatkan secara vulgar mayat atau potongan mayat korban gempa, atau close-up wajah korban yang sedang menangis histeris karena keluarga atau temannya ditemukan tewas atau masih tertimbun di bawah reruntuhan gedung yang rubuh. Yang lebih tidak manusiawi lagi, mereka memaksakan wawancara terhadap korban tanpa memperhatikan kelayakan fisik dan psikis mereka untuk ditanya seputar korban dan bencana yang terjadi. Apalagi kalau disertai perintah-perintah khusus agar lebih dramatik, seperti menyuruh korban menangis atau menjerit-jerit.

Padahal banyak aturan-aturan yang ada dan harus dipatuhi untuk membuat program siaran. Pasal 36 UU no 32 tahun 2004 tentang penyiaran menyebutkan:–telivisi tidak memperlihatkan tayangan-tayangan yang memiliki nilai eksploitatif–. juga peraturan Komisi Penyiaran Indonesia no 03 tahun 2007 tentang Standard Program Siaran atau SPS. Pada pasal 30 peraturan ini menyebutkan:– lembaga penyiaran agar membatasi gambar yang memperlihatkan korban bencana dengan memperhatikan dampak negatif seperti trauma–. pada pasal 30 SPS juga diatur:–agar gambar korban bencana disamarkan dan durasinya dibatasi–. Kemudian pada pasal 54 disebutkan: –dalam meliput dan atau menyiarkan program yang melibatkan pihak-pihak yang terkena tragedi bencana, lembaga penyiaran harus memperhatikan dampak peliputan bagi proses pemulihan korban dan keluarganya–.

Akan tetapi mengapa televisi masih melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut di atas? Mungkin mereka menganggap apa yang mereka tayangkan adalah sebuah REALITA yang harus diketahui oleh masyarakat luas. Namun menurut saya, yang mereka tayangkan bukan sebuah REALITA, melainkan potongan-potongn REALITA, kalau masih bisa dianggap begitu, yang mereka ambil, mereka edit, dan dirangkai ulang untuk menghasilkan kesan tertentu seperti yang mereka inginkan.

Mereka boleh menyangkal, karena mungkin ini adalah sebagian dari keahlian mereka, namun fakta yang kita lihat memang demikian. Yah…kita hanya dapat berharap, mereka menjadi lebih bijaksana dan manusiawi di kemudian hari. Selalu ada waktu untuk bepikir, merenung dan berubah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s