SBY Harus Selalu Salah?

Sebagai Presiden RI, SBY memang harus selalu benar, karena dipundaknya nasib rakyat dibebankan. Namun beliau juga harus selalu salah, agar para pengamat dan para lawan politik, dapat selalu bicara! Dan rakyat, yang kecewa, bisa sedikit terhibur…

sby-detiknews

BOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Pada tahun 2004 silam, sebagai pemenang PILPRES secara langsung, mungkin beliau merasa perlu melakukan rekruitmen menteri secara terbuka atau semi terbuka. Setidak-tidaknya kita tahu siapa para kadindat menteri itu dari tokoh-tokoh yang dipanggil ke Cikeas. Pada periode kedua jabatan sebagai RI-1 sekarang ini, beliau merasa perlu untuk melakukan hal yang sama. Kali ini terlihat lebih dramatis, karena mendapat liputan penuh dari berbagai media. Bahkan terkesan liputan para penebar berita itu sangat berlebihan! Sehingga kalau ada dampak buruk perekrutan menteri ala SBY ini, sebagian adalah hasil kerja para kuli media.

Terlalu berlebihan jika ada yang berharap, heboh penyusunan kabinet SBY-Boediono akan berhenti dengan sendirinya, setelah diumumkan dan dilantiknya para menteri dan pejabat tinggi setingkat menteri, hal itu tak terjadi. Sorotan para pengamat dan kritikus beralih ke masalah komposisi kabinet dan kapabilitas serta kredibilitas para menteri. Beberapa menteri bahkan mendapat sorotan lebih, misal MENKES Endang Rahayu Sedyaningsih, yang pemilihannya dianggap kontroversial dan mengorbankan satu-satunya kadindat yang telah diketahui publik, yaitu: Nila Djuwita Moeloek.

Komposisi anggota kabinetpun dianggap lebih mengakomodasi PARPOL mitra koalisi dan orang-orang dekat SBY yang dianggap telah berjasa memenangkan beliau pada PILPRES. Beberapa pengamat dengan gamblang menganggap, bahwa Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, bukan kabinet kerja atau profesional, melainkan kabinet perkoncoan atau pertemanan.

Akan tetapi sangat naif jika menganggap SBY mau mengorbankan kredibilitas dan jabatan dan kepercayaan rakyat yang memilih, hanya untuk mengakomodasi konco-konco yang telah berjasa itu. Meminjam istilah hukum, patut diduga beliau juga mempertimbangkan profesionalisme sang kadindat yang dari PARPOL dan orang terdekatnya. Patut diduga beliau punya ukuran standard minimum tentang profesionalisme sang kadindat untuk jabatan menteri bersangkutan.

Bisa jadi pilihan sby terbukti salah, seperti praduga para pengamat. Bisa jadi kinerja Kabinet Indonesia Bersatu-2 terbukti sangat buruk, seperti mesin yang gagal produksi, karena salah memilih komponen. Jika ini benar-benar terjadi, mungkin akan memuaskan para pengamat yang merasa prediksinya selalu benar. Bukankah Presiden atau pejabat negara lainnya harus selalu nampak salah, agar mereka tepap bisa bicara dan mengkritiknya?!

Lalu bagaimana dengan rakyat pada umumnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s