Pemerintah Jangan Terlalu Protektif

Pemerintah tidak perlu terlalu memproteksi masyarakat, dari isue-isue provokatif dan kontroversial seperti yang tertulis dalam buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS, dengan melarang peredarannya. Hal ini justru menyebabkan masyarakat menjadi terlalu peka terhadap isue-isue semacam itu, sehingga dapat memicu reaksi emosional dan irasional, bahkan tindakan fisik yang tidak perlu.

foto kompasBOLEHKOMENTAR.COM, FOTO KOMPAS. Pro kontra seputar terbitnya buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS karangan George J. Aditjondro merebak paska soft launching buku itu 23 desember silam. Pihak yang paling gusar atas terbitnya buku ini tentu kubu SBY, yang menjadi sasaran tembak sang penulis.

Di alam demokrasi, lontaran isue-isue provokatif semacam itu, atau versi lain dari peristiwa sejarah, hendaknya dianggap sebagai hal yang wajar dan tidak ditanggapi secara emosional. Perbedaan pendapat dan penafsiran hendaknya dihormati oleh semua pihak. Justru hal ini hendaknya dapat memicu serangkaian diskusi intelektual yang sehat untuk menggapai kebenaran.

Jika tidak sependapat dan ingin melakukan bantahan, banyak forum dan media yang bisa digunakan. Jika merasa difitnah atau dihina, ada jalur hukum yang bisa ditempuh, baik perdata maupun pidana.

Jadi tidak perlu Pemerintah melalui Kejaksaan Agung, melakukan pelarangan peredaran buku kontroversial itu atau memberangus hak masyarakat untuk mengungkapkan pendapat yang dijamin Undang Undang.

Masyarakat jangan terlalu diproteksi dari isue-isue provokatif dan kontroversial, bahkan jika menyangkut isue-isue SARA. Upaya protektif yang berlebihan justru dapat menyebabkan masyarakat terlalu peka terhadapnya, yang dapat memicu tindakan emosional dan irasional, yang kadang menjurus ke aksi-aksi fisik yang merusak.

Membicarakan dan bersilang pendapat tentang isue-isue provokatif dan kontroversial semacam itu, hendaknya dapat menjadi bagian yang wajar dalam kehidupan kita di alam demokrasi. Dan satu-satunya tugas pemerintah dalam hal ini, adalah untuk melindungi hak masyarakat untuk berpendapat atau berbeda pendapat, dan menjamin agar hal itu dapat berjalan pada jalur sewajarnya, dan meminimilisasi efek buruknya. Bukan melakukan apa yang biasa dilakukan rezim Orde Baru

Terkait lontaran isue George J. Aditjondro dalam buku berjudul MEMBONGKAR GURITA CIKEAS, serangkaian pembicaraan dan diskusi yang belakangan terjadi, justru sangat positif untuk mengungkap kebenaran. Jika yang ditulis beliau benar dan berdasar fakta yang tak terbantahkan, dia akan dianggap sebagai pahlawan. Namun jika tulisan itu hanya semacam gurauan politik, masyarakat tahu siapa yang layak dianggap sebagai pecundang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s