Apa Sulitnya Keluar Dari Koalisi?

Setelah apa yang dianggap oleh PARTAI DEMOKRAT sebagai sebuah pengkhianatan dalam pengambilan keputusan HAK ANGKET CENTURY 3 maret 2010 silam, PKS, GOLKAR dan PPP nampaknya masih merasa nyaman berada dalam KOALISI. Padahal PD jelas menunjukkan ketidak-sukaanya pada sikap mitra koalisinya itu. Sebenarnya apa yang membuat mereka tetap bertahan?

Menurut etika koalisi memang seharusnya PKS, GOLKAR dan PPP tak berseberangan dengan DEMOKRAT dalam voting pada RAPAT PARIPURNA HAK ANGKET kemarin. Kalaupun tidak bisa sepaham, mestinya mereka ABSTAIN saja. Namun nampaknya ketiga partai tersebut tak berani mengambil resiko dihukum konstituennya.

Namun demikian alasan tersebut di atas bukan alasan yang tepat untuk membenarkan sikap mereka. Kalau tak berani mengambil resiko jika seia sekata dengan sang pemimpin koalisi, seharusnya mereka sejak awal memposisikan sebagai seorang RONIN, atau pejuang samurai tanpa tuan?

Atau dulu bergabung dengan PDIP saja? Patut diduga mereka, terutama PKS dan GOLKAR, tidak bergabung dengan PDIP, karena tidak ingin memenangkan MEGAWATI pada PILPRES 2009 silam. Apalagi bagi GOLKAR, sebagai pemenang ke-2 dalam PEMILU LEGESLATIF yang tidak mengajukan CAPRES sendiri, akan lebih kehilangan muka jika tidak mendukung salah satu dari dua CAPRES yang ada. Menurut hitungan mereka lebih menguntungkan jika merapat ke kubu DEMOKRAT yang mengusung SBY. Jadi menurut logika, sebatas ini pula kepentingan mereka berkoalisi dengan DEMOKRAT. Setelah tujuan itu tercapai, mereka kembali menganggap diri sebagai PARPOL tak terikat KOALISI, meskipun masih berada di dalam.

Presiden SBY sendiri, baik sebagai Penasehat Utama PARTAI DEMOKRAT maupun Pemimpin KOALISI Pemerintah, tak berani mengambil resiko untuk bertindak tegas kepada ketiga partai tersebut. Bagi beliau dan PD, hal tersebut merupakan sebuah dilema yang penuh resiko. Jika bertindak keras, khawatir dijegal pada pertarungan berikutnya, tidak bertindak keras pengkhianatan berpotensi berulang kembali.

Menurut beberapa pengamat, SBY tidak akan melakukan tindakan yang berarti, reshuffle kabinet dan penertiban anggota KOALISI, sampai oktober mendatang, saat dilakukan evaluasi terhadap setahun kinerja KABINET INDONESIA BERSATU II.

Jadi mengapa PKS, GOLKAR dan PPP tidak keluar dari KOALISI sekarang juga, daripada didepak secara halus atau kasar kelak? Apa yang membuat mereka berat meninggalkan KOALISI meskipun sudah tidak sejalan? Apa untungnya tetap di dalam sementara yang lain terus curiga, bahwa mereka akan melakukan pengkhianatan lagi di masa mendatang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s