Seharusnya Megawati Legawa Lengser Keprabon

Seharusnya MEGAWATI dengan legawa lengser dari kursi Ketua Umum PDIP pada KONGGRES di Bali bulan april mendatang. Namun jika dilakukan sekarang mungkin sudah terlambat!

foto detikcomSeharusnya KONGGRES PDIP di Bali pada tanggal 6 – 9 april 2010 mendatang, merupakan moment yang paling tepat bagi MEGAWATI untuk turun keprabon dari singgahsana Ketua Umum PDIP. Meskipun mengalami kekalahan pada pemilu legeslatif dan PILPRES 2009, paska ANGKET CENTURY, pamor PDIP sedang naik daun. PDIP telah menjadi patron partai politik yang konsisten dalam mengkritisi Pemerintah.

Kekhawatiran bahwa PDIP tidak akan solid lagi jika tidak dipimpin oleh MEGAWATI atau trah SOEKARNO lainnya, menurut saya sangat berlebihan. Hal ini jelas merupakan cermin pengkultusan pribadi MEGAWATI dan trah SOEKARNO, dan mendiskreditkan beliau hanya sebagai PALU pereda konflik yang biasa terjadi pada partai politik sebesar PDIP.

Jika program kaderisasi partai berjalan baik dan dijalankan secara profesional tanpa nepotisme, tak sulit bagi PDIP untuk menemukan pemimpin partai sekaliber MEGAWATI, bahkan yang jauh lebih baik daripada beliau.

Kegigihan MEGAWATI untuk tetap bertahan di kursi Ketua Umum, dalam jangka pendek mungkin baik bagi PDIP. Namun dalam jangka panjang justru sangat merugikan, karena sama saja dengan menghilangkan kesempatan kader-kader partai yang mempunyai potensi untuk memimpin PDIP, dan menenggelamkan mereka dalam arus pusaran rasa frustasi.

Namun kalaupun MEGAWATI ingin lengser, sekarang sudah terlambat. Menyitir pernyataan Taufik Kiemas, terpilihnya MEGAWATI sebagai Ketua Umum PDIP periode 2010-2015 tinggal ketuk palu di KONGGRES mendatang. Mewacanakan penggantian beliau justru akan menimbulkan konflik yang berpotensi menimbulkan perpecahan, yang kata orang adalah tradisi dalam KONGGRES PDIP. Tentu kita masih ingat konflik pada KONGGRES sebelumnya, yang membuat beberapa kader hengkang dan membidani lahirnya partai sempalan: PARTAI DEMOKRASI PEMBAHARUAN, yang mungkin menggembosi perolehan suara PDIP.

Lalu apa solusinya? Wacana adanya posisi baru dalam struktur kepengurusan partai, misalnya WAKIL KETUA UMUM, mungkin adalah solusinya. Asalkan nantinya MEGAWATI legawa memberi kewenangan lebih kepada siapapun yang duduk di sana, dan beliau rela mundur satu-dua langkah.

Namun PDIP mbok ya jangan terlalu mengandalkan dan mengistimewakan trah SOEKARNO. Jangan-jangan dia hanya dijadikan bendera, sementara pemegang tiangnyalah yang sebenarnya berkuasa!

Foto dukumentasi detikcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s