Mengapa POLRI Terkesan Lamban Dalam Menangani SJ?

logoPOLRI harus bergerak cepat dan kalau perlu membuat terobosan hukum untuk menindak lanjuti “omongan Susno Duadji” pada saat rapat dengan Komisi III DPR, kamis 8 april 2010 yang lalu. Hal ini tak terhindari, karena saat ini masyarakat lebih percaya kata-kata Susno Duadji daripada anggota POLRI lainnya seberapapun tinggi pangkat dan jabatannya.

Pada saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR kemarin, mantan KABARESKRIM MABES POLRI yang telah di-nonjob-kan itu, dengan berani menyatakan MR X adalah MARKUS kakap yang bukan hanya mengatur kasus Gayus Tambunan, namun juga kasus-kasus lain yang lebih besar. Belakangan publik mengetahui MR X yang dimaksud adalah SJ atau diduga Sjahril Djohan, yang konon dekat dengan mantan WAKAPOLRI MP.

Namun POLRI nampaknya tidak akan segera melakukan tindakan penangkapan seperti yang diharapkan masyarakat. Mengapa?

Seperti biasa, masalah prosedural selalu digunakan POLRI untuk menjelaskan mengapa mereka tidak dapat segera mengambil tindakan hukum terhadap orang-orang setingkat SJ. Kontras dengan perlakuan hukum mereka terhadap ORANG-ORANG KECIL, apalagi yang buta hukum tanpa BACKING.

Seperti yang dinyatakan KADIV HUMAS MABES POLRI Irjen Pol Edward Aritonang 10 april 2010 yang lalu, meskipun mengetahui SJ sudah pulang ke Indonesia, MABES POLRI tidak akan gegabah langsung menangkapnya, hanya karena omongan Susno Duadji di DPR. Apalagi menurutnya, dari 7 tersangka yang telah diperiksa belum satupun yang menyebutkan keterlibatan SJ dalam perkara MARKUS PAJAK. Tindakan baru akan diambil setelah melakukan pemeriksaan terhadap Komjen Susno Duadji, dan mendapatkan bukti awal yang cukup untuk melakukan penangkapan.

Nampaknya bola kembali dilempar ke tangan Susno Duadji sebagai pihak yang pertama mengungkapkan kasus ini. Tangkapan bola panas ini hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pak Susno untuk membeberkan sedetail mungkin keseluruhan perkara MARKUS di tubuh POLRI dan peran SJ serta tokoh elite lainnya. Semuanya harus diungkap dan tak perlu menyisakan satupun sebagai kartu truf atau apapun namanya! Kartu truf sebenarnya bagi Susno Duadji adalah DUKUNGAN dan KEPERCAYAAN masyarakat terhadap maksud baiknya untuk membongkar borok di tubuh POLRI.

Tentang tokoh SJ itu sendiri, di hadapan anggota Komisi III pak Susno menyatakan, KABARESKRIM Komjen Pol Ito Sumardi sendiri pernah mengatakan bahwa SJ ini memang dikenal dekat dengan petinggi POLRI. Nah kalau benar demikian mengapa POLRI tidak memanfaatkan kedekatannya ini untuk membujuk SJ agar secara sukarela mau datang untuk diperiksa, dan dikonfrontir dengan Susno Duadji? Ataukah justru kedekatannya ini membuat POLRI enggan dan sungkan untuk segera memeriksanya? Lagi-lagi mengapa?

Keengganan Polisi untuk segera menangani SJ, hanya akan membuat masyarakat lebih curiga tentang adanya hubungan tak wajar antara POLRI dengan SJ, sehingga beberapa oknum petinggi kepolisian merasa khawatir kedoknya akan terbongkar jika si MR X dibiarkan BERNYANYI! Namun cepat atau lambat, SJ memang harus BERNYANYI, meskipun suaranya terdengar sumbang dan menyakitkan telinga pihak tertentu.

UPDATE 11 APRIL 2010, 06:50 PM. Dikabarkan POLRI dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum akan memeriksa SJ secara bersama-sama, besok senin 12 april 2010. Sementara Susno Duadji MASIH tetap MENUNGGU PANGGILAN POLRI. Mengapa pak Susno tidak mengambil inisiatif untuk datang dan MINTA DIPERIKSA seperti yang dia gembar-gemborkan selama ini?

2 responses to “Mengapa POLRI Terkesan Lamban Dalam Menangani SJ?

  1. Billy Koesoemadinata April 12, 2010 pukul 8:28 am

    ada banyak staf polri yang takut keseret SJ kali tuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s