Berhenti Berwacana Tentang Upaya Pelemahan KPK

SETELAH kemenangan Anggodo dalam sidang praperadilan yang mempersoalkan keluarnya SKPP kasus Bibit-Chandra, isu soal upaya pelemahan KPK menyeruak kembali. Meskipun keabsahan Anggodo sebagai pihak yang mengajukan praperadilan dipersoalkan beberapa pihak, terbukanya kembali kasus yang menimpa dua Wakil Ketua KPK tersebut dimungkinkan terjadi.

Sebagaimana pernyataan Nasir Jamil, anggota Komisi III DPR, dalam diskusi tentang DRAMA BIBIT-CHANDRA JILID DUA, di Warung Daun jl. Cikini Raya, seperti yang saya baca pada sebuah situs berita online, upaya untuk melemahkan KPK masih terus ada. Salah satu caranya adalah dengan membangkitkan kembali kasus Bibit-Chandra, yang jika berhasil dipastikan akan melengserkan kedua pimpinan KPK tersebut.

Namun menurut saya, semua pihak seharusnya berhenti berwacana tentang upaya pelemahan lembaga anti korupsi itu, terutama jika dikaitkan dengan pembukaan kembali kasus Bibit-Chandra. Mengapa?

Saya khawatir hal tersebut di atas dapat menyulut kembali pro-kontra tentang dugaan kriminalisasi pimpinan KPK, yang terbukti kontraproduktif terhadap penyelesaian hukum kasus Bibit-Chandra. Meskipun sekarang ini banyak persoalan hukum yang sedang menjadi sorotan publik, tak tertutup kemungkinan hal tersebut bisa terjadi lagi.

Sekarang, jika kita 100 persen yakin tentang adanya upaya kuat dari pihak-pihak tertentu untuk melemahkan KPK, seharusnya kita mewacanakan hal yang sebaliknya: UPAYA PENGUATAN KPK!

Saya khawatir, jika kita yang peduli terhadap eksistensi KPK, lebih fokus pada pembicaraan soal UPAYA PELEMAHAN KPK, hal ini hanya akan memicu keluarnya energi negatif dan sikap emosional yang berlebihan untuk membela lembaga superbody tersebut. Padahal yang sangat dibutuhkan adalah solusi jitu menguatkan lembaga tersebut, agar tetap eksis dan efektif menjalankan fungsinya, meskipun diserang oleh berbagai pihak dan dengan beragam cara.

Memang benar, hal ini hanya persoalan mengubah sudut pandang. Namun saya yakin jika dilakukan dengan benar, akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Misalnya, sekarang ini mutlak harus harus dipikirkan cara-cara agar KPK dapat tetap bekerja optimal dan menghasilkan keputusan hukum yang syah, meskipun hanya tersisa satu atau dua dari 5 unsur pimpinan. Jangan malah berpikir sebaliknya, bahwa keputusan yang diambil hanya oleh satu atau dua pimpinan diragukan validitasnya.

Juga masalah pergantian pimpinan KPK dalam situasi mendesak, ketika banyak kasus besar yang harus diselesaikan. Apakah dalam situasi seperti ini, dimungkinkan untuk mengadopsi mekanisme pergantian pimpinan ala militer di medan perang? Di medan perang, sebuah satuan yang kehilangan komandan, secara otomatis wakilnya akan menggantikan. Jika wakilnya juga tewas, maka perwira yang masih hidup dan tertinggi pangkatnya yang akan menggantikan. Bahkan dalam situasi yang lebih ekstrim, ketika perwira yang tersisapun tak dapat berfungsi secara optimal, seorang sersan atau prajurit boleh memimpin, karena dalam situasi yang sangat kacau dalam sebuah pertempuran, pasukan tetap memerlukan seorang pemimpin.

Menurut saya, situasi di medan tempur tak jauh beda dengan situasi perang melawan korupsi. Cuma bedanya disini tak ada kematian fisik, melainkan kematian nurani dan rasa malu. Jadi mungkin mekanisme pergantian pimpinan ala militer ini dapat diterapkan, minimal sampai ditetapkan penggantinya secara formal. Tentu saja agar mekanisme tersebut dapat diterapkan dengan baik, diperlukan mekanisme rekruitmen dan pelatihan yang sangat baik pula.

Saya yakin sekali jika wacana PENGUATAN KPK yang menjadi fokus diskusi dan pembicaraan oleh pihak-pihak yang cinta KPK dan kompeten, akan banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperkuat lembaga ini dari rongrongan para tikus koruptor dan antek setianya atau orang yang mereka bayar. Kalaupun untuk melakukan hal tersebut, perlu mengubah Undang-undang TIPIKOR, mengapa tidak dilakukan?

Foto dokumentasi detikcom

One response to “Berhenti Berwacana Tentang Upaya Pelemahan KPK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s