Deponeering Bukan Solusi Terbaik…Bibit dan Chandra Harus Menjalani Proses Pengadilan…KPK Tidak Akan Mati!

Saya merasa sedikit gerah mendengar banyak pihak yang mendorong Jaksa Agung untuk melakukan DEPONEERING, atau mengesampingkan perkara, sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan kasus pembatalan SKPP kasus Bibit-Chandra oleh Pengadilan Tinggi DKI.

Sebenarnya DEPONEERING juga merupakan salah satu opsi, selain penerbitan SKPP, yang direkomendasikan TIM 8 untuk menghentikan kasus Bibit-Chadra. Namun karena alasan tertentu Kejaksaan Agung lebih memilih menerbitkan SKPP, yang belakangan dipermasalahkan Anggodo Widjaja dan beberapa tokoh lain.

Bagi pihak-pihak tertentu, baik pengeluaran SKPP maupun melakukan DEPONERING sama-sama merupakan solusi kontroversial untuk menyelesaikan kasus Bibit-Chandra. Jadi apa jaminannya jika Jaksa Agung benar-benar melakukan DEPONEERING, tidak ada lagi pihak yang mempermasalahkan? Meskipun DEPONEERING merupakan langkah akhir yang tidak dapat digugat!

Menurut saya, setidak-tidaknya saat ini, satu-satunya cara untuk menyelesaikan kasus Bibit-Chandra secara permanen adalah melalui JALUR PENGADILAN!

Memang konsekuensinya berat, baik buat Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah maupun bagi KPK. Karena untuk sementara waktu, sampai kasusnya mendapat kepastian hukum, KPK harus kehilangan dua orang Wakil Pimpinannya.

Jika Bibit dan Chandra harus menjalani proses pengadilan dan dinon-aktifkan, praktis KPK hanya menyisakan dua orang pimpinan dari lima pimpinan yang ada. Sementara Ketua KPK, untuk menggantikan Antasari Azhar yang terjerat kasus pembunuhan, sedang dalam proses penjaringan.

Memang kenapa? Naif kalau saya berkata, hal tersebut tidak akan mengganggu kinerja KPK. Namun sangat berlebihan jika penonaktifan Bibit dan Chandra akan mematikan KPK. Kecuali kalau memang benar-benar ada pihak tertentu yang berupaya mematikan KPK dengan memanfaatkan kasus yang menimpa Bibit dan Chandra!

Seharusnya KPK tetap dapat berfungsi dan keputusan-keputusannya tetap dianggap syah, meskipun hanya dipimpin oleh dua orang Wakil Ketua.

Kejadian ini mestinya mendorong pihak-pihak yang kompeten untuk merefisi UU Pengadilan Tipikor , dan memasukkan aturan yang memungkinkan pengangkatan PIMPINAN SEMENTARA KPK dari dalam untuk mengisi kekosongan. Jika harus menunggu KEPRES atau PERPU, selain terlalu lama, juga berpotensi ditentang DPR seperti kejadian yang lalu.

Kembali ke persoalan Bibit-Chandra, DEPONEERING justru merugikan mereka berdua. Bukankah DEPONEERING mengindikasikan bahwa kasus atau tindak pidananya ada, tetapi DIKESAMPINHKAN demi kepentingan umum?

Jadi bagi kedua PIMPINAN KPK tersebut, satu-satunya penyelesain yang paling logis dan final adalah PENGADILAN! Jika mereka berdua yakin tidak bersalah, maka tak ada alasan lagi untuk menghindar dari proses hukum.

Saya cukup lega ketika mendengar Bibit dan Chandra dan tim pengacaranya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi pengadilan. Hal ini lebih baik daripada ikut-ikutan berwacana soal DEPONEERING dan kemungkinan pengeluaran SKPP Jilid 2!

One response to “Deponeering Bukan Solusi Terbaik…Bibit dan Chandra Harus Menjalani Proses Pengadilan…KPK Tidak Akan Mati!

  1. penuai Juni 5, 2010 pukul 8:24 am

    nice info gan …thanx

    DOWNLOAD !! PERINGATAN TANDA KIAMAT !!
    Sermon II in Indonesian Leanguage.doc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s