Perlawanan Yusril Ihza Mahendra…Kemarahan, Pengalihan atau Upaya Menghindari Proses Hukum

SUARABANGET.COM Jika Yusril Ihza Mahendara menganggap penetapan dirinya sebagai tersangka kasus SISMINBAKUM kental nuansa politiknya, apa yang dibidik? Sebagai seorang politikus, dalam beberapa tahun belakangan ini namanya telah tenggelam. Sementara partai politik yang pernah dipimpinnya, bukan partai besar yang layak diperhitungkan.

Justru beliau sendiri yang mempolitisasi kasus hukum yang dihadapinya, dengan mempersoalkan legalitas jabatan Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung. Mengapa baru sekarang dilakukan? Coba kita periksa kembali, pernahkah Yusril memenuhi panggilan pemeriksaan Kejaksaan Agung dalam kurun waktu antara tanggal 22 oktober hingga waktu beliau ditetapkan sebagai tersangka?

Patut diduga ada dua sasaran yang hendak beliau capai dengan menggulirkan tuduhan tersebut di atas. Pertama, ingin mengaburkan perhatian publik dari kasus hukum SISMINBAKUM dengan wacana soal legalitas jabatan Hendarman Supandji yang mungkin dapat bergulir liar ke upaya pemakzulan Presiden SBY karena kelalaiannya memberhentikan dan atau melantik kembali Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung.

Kedua, langkah ini merupakan upaya mantan Menteri Kehakiman dan HAM itu untuk menghindar dari pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung. Seperti yang pernah beliau ungkapkan, tak ada kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mematuhi keputusan Jaksa Agung ilegal. Terbukti jauh-jauh hari Yusril tidak akan memenuhi panggilan Kejagung yang dijadwalkan besok tanggal 12 juli.

Saya jadi ingat, dalam sebuah talk show di sebuah station TV swasta, Yusril menyatakan diri tak bersalah dan tak ada satu buktipun yang dapat menjadikan dia sebagai tersangka kasus SISMINBAKUM. Menurut beliau semua tuduhan yang mengarah kepada dirinya hanyalah ketidak becusan dan salah tafsir para Penyidik Kejaksaan Agung terhadap proyek SISMINBAKUM yang digagasnya.

Namun keyakinan tersebut sangat bertentangan dengan perlawanan yang beliau lakukan. Mengapa beliau tidak menjalani dulu pemeriksaan sebagai tersangka dan mempersoalkan legalitas Jaksa Agung Hendarman jika keadaan beliau sudah benar-benar terjepit? Mengapa beliau terlalu awal mengeluarkan senjata pamungkasnya?

Menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, terlepas dari apa yang selalu Yusril katakan tentang kasus ini, posisi mantan Mensesneg tersebut memang sangat genting, seperti telur di ujung tanduk. Artinya, kemungkinan beliau dinyatakan bersalah sangat besar. Kedua, manuver ini adalah manifestasi kemarahannya karena telah dinyatakan sebagai tersangka!

Tentang kemarahannya terhadap Pemerintah sekarang ini tercermin dari ancaman untuk membongkar kebusukan yang terkait orang dalam istana, dan ucapan emosionalnya: KALAU SAYA MATI, SEMUA HARUS MATI JUGA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s