Mbah Maridjan… Menjaga Gunung Merapi atau Keselamatan Penduduknya?

foto

Letusan Merapi, tak seharusnya memakan banyak korban manusia-foto kompas.com

Bukan sebuah kebetulan jika kebanyakan korban tewas maupun luka, akibat letusan gunung Merapi adalah warga dusun Kinahrejo. Meskipun lokasinya paling dekat dengan puncak Merapi, namun jika semua penduduk bersedia dievakuasi sebelum atau pada detik-detik akhir menjelang letusan, hampir dipastikan tidak akan ada korban yang tersengat awan panas Merapi.

Tetapi mengapa mereka berkeras hati tetap bertahan? Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada beliau, tak dapat dipungkiri bahwa, kepercayaan tanpa syarat terhadap Mbah Maridjan, yang memutuskan tidak mau turun gunung, yang membuat mereka tak bersedia dievakuasi, meskipun tahu bahaya telah mendekat.

Tentu saja kita boleh memuji dedikasi dan keteguhan hati mbah Maridjan dalam menjalankan tugas yang dititahkan Sultan Hamengku Buwono IX untuk menjaga Merapi. Namun kita tidak boleh terjebak pada euforia pemujaan yang berlebihan terhadap beliau.

Meskipun keputusannya untuk bertahan di dusun tidak layak dianggap sebagai sebuah kesalahan, namun harus diakui, ada hal lain yang jauh lebih baik untuk beliau lakukan pada waktu itu. Sehingga tidak perlu ada korban jiwa, termasuk beliau sendiri, saat gelombang awan WEDHUS GEMBEL menerpa dusun tempat tinggalnya.

Namun jika keputusannya untuk tidak mau dievakuasi dianggap sebagai sebuah kesalahan, tidak selayaknya hal tersebut hanya ditimpakan kepada beliau. Sejauh menyangkut tugasnya sebagai juru kunci gunung Merapi, setidaknya ada dua kemungkinan mengapa mbah Maridjan memilih untuk menghadang maut yang telah di depan mata. Pertama, Beliau salah menafsirkan titah atau perintah Sri Sultan untuk menjaga Merapi. Kedua, Sri Sultan salah dalam memberikan perintah kepada mbah Maridjan, atau kurang jelas dalam menjabarkan tugas-tugar yang harus diemban seorang juru kunci Merapi.

Menurut penafsiran saya, ada dua tugas utama seorang juru kunci Merapi. Pertama, menjaga keselamatan atau kelestarian gunung Merapi, dari kerusakan akibat ulah penduduk lereng Merapi dan manusia pada umumnya. Yang kedua, menjaga keselamatan warga yang bermukim di lereng Merapi, dengan kemampuan mbah Maridjan dalam membaca pertanda alam dan melalui bisikan gaib, mimpi atau wangsit, sebelum gunung meletus dan mengancam kehidupan mereka.

Sebuah ironi jika Sri Sultan Hamengku Buwono IX hanya memerintahkan mbah Maridjan HANYA untuk menjaga Merapi dalam pengertian yang pertama seperti tersebut di atas. Sehingga mengabaikan tugas kedua, yaitu untuk menjaga keselamatan seluruh warga yang hidup di lereng Merapi.

Kejelasan penjabaran tugas seperti yang saya sebutkan di atas sudah selayaknya ditanamkan kepada pengganti mbah Maridjan, jika Sri Sultan Hamengku Buwono X berkenan mengangkat kembali juru kunci untuk menjaga gunung Merapi.

One response to “Mbah Maridjan… Menjaga Gunung Merapi atau Keselamatan Penduduknya?

  1. omiyan November 2, 2010 pukul 9:49 am

    Mbah maridjan adalah salahs atu contoh seorang Abdi yang benar benar mengabdi dalam mengemban amanah yang dipercayakannya…

    ini bisa jadi semacam gambaran kepada kita, dengan penghasilan tak seberapa tapi kesetiaan terhadap pemimpin yang memberinya amanah benar-benar dilaksanakan walau maut menjadi taruhannya

    Kita semua hanya berharap semoga kejadian ini tidak terulang karena sesungguhnya kita percaya dan berserah diri kepada Allah SWT

    salam maseko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s